Muhammad Salwa Aristotel: Dari Kudus, Menembus Istana hingga Panggung Musik Bersama Addie MS

Muhammad Salwa Aristotel tampil memainkan alat musik tiup bersama musisi lainnya dalam sebuah pertunjukan musik. (Foto: Istimewa)

KUDUS, LINTASKUDUS – Keterbatasan fisik tak pernah meyakinkan Muhammad Salwa Aristotel untuk berhenti melangkah. Pemuda kelahiran Kudus, 17 September 2001, ini membuktikan bahwa dedikasi dan semangat belajar mampu membawanya melampaui berbagai keterbatasan—mulai dari dilirik Presiden RI, berkolaborasi dengan maestro musik, hingga berprestasi di kancah olahraga paralimpik.

Perjalanan mandiri Salwa dimulai dari tanah kelahirannya di Kudus. Sempat menimba ilmu di SLB Negeri Purwosari Kudus dan mengukir prestasi akademik, potensi Salwa yang besar mendorong para guru menyarankannya melanjutkan pendidikan ke Sekolah Luar Biasa Yayasan Pendidikan Anak Cacat (YPAC) Surakarta.

Keputusan berpindah ke Solo menjadi titik balik kehidupannya. Terpisah jauh dari orang tuanya yang tinggal di Kecamatan Undaan, Kudus, Salwa belajar hidup mandiri di asrama, mengurus kebutuhan harian, hingga terbiasa naik bus antarkota seorang diri.

Di Solo, bakat seni Salwa mulai terasah pesat. Dengan ketekunannya, ia belajar melukis menggunakan kaki. Kepiawaian ini mengantarkannya pada kesempatan langka pada tahun 2017, saat ia diundang langsung oleh Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana ke Istana Negara.

Kala itu, Salwa dipercaya melukis sketsa keluarga Wakil Presiden Amerika Serikat saat itu, Mike Pence, dalam rangkaian acara penyambutan tamu negara.

“Saya pernah mendapat kesempatan istimewa, yakni diundang melukis oleh Bapak Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana dalam rangkaian penyambutan tamu negara di Istana Negara,” kenang Salwa.

Tidak berhenti pada seni rupa, ketertarikan Salwa bergeser ke dunia musik usai melihat teman-temannya di YPAC Solo mengadaptasi permainan alat musik. Ia mulai mempelajari keyboard, bass, hingga terompet. Teknik permainan terompetnya yang unik bahkan sempat dijadikan objek penelitian mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta terkait adaptasi teknik instrumen bagi penyandang tunadaksa.

Ketekunannya bermusik berbuah manis pada 2018. Bermula dari rekaman permainannya yang dikirimkan oleh seorang rekan kepada Addie MS, Salwa akhirnya mendapatkan kesempatan langka untuk tampil satu panggung bersama conductor ternama Indonesia tersebut.

“Saya kemudian diminta memainkan sebuah lagu untuk direkam. Rekaman tersebut dikirimkan kepada Mas Addie MS,” terang Salwa mengenai awal mula terwujudnya impian masa kecilnya itu.

Selain di bidang seni, Salwa juga menunjukkan prestasi di bidang olahraga. Ia berkembang menjadi atlet paralimpik cabang renang dan sukses menyabet tiga medali emas pada Pekan Paralimpik Daerah (Peparda) 2022, di samping rentetan prestasi lain seperti FLS2N tingkat provinsi.

Kini, Salwa kembali membuka babak baru dalam hidupnya. Ia resmi berstatus sebagai mahasiswa Program Studi Seni Musik di Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

“Hidup di Jakarta dengan persaingan seni yang ketat, menuntut saya untuk kembali beradaptasi,” ungkapnya.

Bagi Salwa, perjalanan panjang dari Kudus, Solo, hingga ke ibu kota dirangkum dalam satu prinsip sederhana yang selalu ia pegang teguh: “Semua bisa dilakukan asal mau belajar.”