Budaya  

Karnaval Budaya Hari Jadi Kudus ke-477 Pecah! Simpang Tujuh Dipenuhi Warna dan Budaya

Penampilan peserta Karnaval Budaya dalam rangka memeriahkan Hari Jadi Kota Kudus ke-477 di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, Sabtu (12/9/2026). (Foto: Joelian/Lintaskudus)

KUDUS, LINTASKUDUS.COM – Dentuman musik menggema di jantung Kota Kudus. Warna-warni kostum bergerak di antara ribuan pasang mata yang memadati kawasan Alun-alun Simpang Tujuh. Malam itu, jalanan yang sehari-hari dipenuhi kendaraan berubah menjadi ruang pertunjukan terbuka, tempat budaya dan kreativitas tampil dalam kemeriahan.

Ribuan warga tumpah ruah untuk menyaksikan Karnaval Budaya dalam rangka perayaan Hari Jadi Kudus ke-477, Sabtu malam, 12 September 2026.

Sebanyak 22 kontingen dari sekolah maupun kecamatan ambil bagian dalam gelaran tersebut. Satu per satu peserta menampilkan kreativitas terbaik dengan mengangkat kekayaan budaya, tradisi, kuliner, potensi daerah hingga berbagai kearifan lokal yang dimiliki Kabupaten Kudus.

Karnaval Budaya dibuka dengan penampilan atraksi barongsai yang mengantarkan jajaran pejabat Pemerintah Kabupaten Kudus menuju panggung utama. Suasana semakin semarak setelah penampilan sanggar tari yang membawakan pertunjukan dengan tema dolanan tradisional.

Setelah itu, satu per satu kontingen mulai memasuki jalur karnaval dan menunjukkan penampilan terbaiknya.

SMP 1 Dawe tampil dengan tema “Pasukan Macan Putih”. Disusul SMP 5 Kudus yang mengangkat tema “Kopi Moeria”, serta SMP 3 Kudus dengan tema “Marsudi Pisang Byar Muda”.

Penampilan berlanjut dengan SMP 1 Gebog yang mengangkat tema “Kudus Kota Kretek”. SMP 1 Kudus tampil dengan “Khajatan”, SMP 2 Kudus menyuguhkan “Gurihnya Lentog”, sementara SMP 4 Kudus membawa tema “Gandhaning Kretek”.

Tak kalah menarik, SMP 1 Jati turut memeriahkan Karnaval Budaya dengan mengangkat tema “Gebyar Dhandhangan”.

Beragam kostum, properti hingga koreografi yang ditampilkan para pelajar sukses menyita perhatian penonton. Banyak warga yang berdiri di sepanjang jalur karnaval untuk mendapatkan posisi terbaik, sementara sebagian lainnya mengabadikan momen menggunakan telepon genggam.

Memasuki parade kontingen tingkat kecamatan, Kecamatan Jati menjadi penampil pertama. Kontingen Kecamatan Jati kali ini diwakili oleh Desa Jati Wetan yang membawa kreativitas serta potensi budaya lokal daerahnya.

Setelah penampilan dari Kecamatan Jati, kontingen dari kecamatan-kecamatan lainnya secara bergantian menyusuri jalur karnaval. Masing-masing membawa identitas daerah melalui berbagai bentuk pertunjukan, mulai dari kostum, tarian, musik, properti hingga atraksi kreatif.

Kehadiran sembilan kontingen kecamatan semakin menambah kemeriahan malam perayaan Hari Jadi Kudus ke-477. Setiap penampilan mendapat sambutan meriah dari warga yang memadati kawasan Simpang Tujuh.

Bupati Kudus Sam’ani Intakoris mengatakan, rangkaian kegiatan dalam peringatan Hari Jadi Kudus tidak hanya digelar untuk memeriahkan perayaan. Pemerintah Kabupaten Kudus juga berharap kegiatan tersebut dapat meningkatkan kunjungan wisata yang pada akhirnya mampu menggerakkan perekonomian masyarakat.

“Pertama, kita ingin meningkatkan kunjungan pariwisata sehingga geliat ekonomi meningkat dan pendapatan masyarakat Kudus juga meningkat,” kata Sam’ani.

Sam’ani juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat apabila pelaksanaan Karnaval Budaya berdampak terhadap kelancaran lalu lintas maupun kenyamanan pengguna jalan.

Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkenalkan Kudus melalui kegiatan wisata berbasis atraksi atau spot tourism.

“Pemkab kami mohon maaf bila pengguna jalan sekitar kondisinya macet atau yang lain. Ini adalah Kabupaten Kudus mantu. Mungkin mengganggu kenyamanan, tapi untuk meningkatkan wisata di Kudus, termasuk kegiatan spot tourism,” ujarnya.

Selain menjadi hiburan bagi masyarakat, Karnaval Budaya juga menjadi momentum untuk terus menjaga dan melestarikan kekayaan budaya lokal.

Sam’ani mengatakan, di usia Kudus yang telah mencapai 477 tahun, semangat Hari Jadi Kudus bertajuk “Urup Nguripi” diharapkan mampu memberikan dampak nyata bagi kehidupan masyarakat.

“Dengan kegiatan ini kita nguri-nguri budaya kita. Tidak terasa Kudus berusia 477. Sesuai dengan judul HUT Kudus, ‘Urup Nguripi’, ini artinya geliat ekonomi masyarakat yang urup, meningkatkan daya beli masyarakat dan ekonomi masyarakat,” pungkasnya.

Malam itu, Simpang Tujuh benar-benar dipenuhi warna dan budaya. Di tengah lautan warga, beragam tradisi tampil berdampingan dengan kreativitas generasi muda.

Perayaan Hari Jadi Kudus ke-477 pun tidak hanya menjadi penanda bertambahnya usia sebuah daerah, tetapi juga menjadi panggung untuk memperlihatkan bahwa budaya masih hidup, terus bergerak dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. (Faza)