Penebalan Stok dan Pengawalan Polda, BBM Muria Raya Siap Hadapi Lonjakan Kunsumsi Jelang Lebaran

Kudus, lintaskudus.com – Menjelang arus mudik dan balik Idulfitri 1447 H/2026, suplai bahan bakar minyak (BBM) di wilayah Muria Raya dipastikan dalam kondisi terkendali. Tak sekadar menambah stok, Pertamina Patra Niaga Regional JBT menyiapkan skema distribusi berlapis untuk mengantisipasi lonjakan konsumsi dan potensi hambatan di lapangan.

Fokus pada kesiapan teknis distribusi dan mitigasi risiko—mulai dari penebalan stok, mobil tangki siaga, hingga pengawalan kepolisian dan antisipasi cuaca ekstrem.

Area Manager Communication, Relations, dan CSR Pertamina Patra Niaga Regional JBT, Taufiq Kurniawan, menjelaskan penebalan stok dilakukan sebesar 15 hingga 20 persen dari rata-rata konsumsi normal.

“Penambahan ini kami siapkan untuk mengantisipasi kenaikan permintaan serta potensi hambatan distribusi, terutama untuk wilayah yang jauh dari depot seperti Semarang,” ujarnya, Rabu (4/2/2026) petang.

Secara komposisi, konsumsi BBM di Muria Raya masih didominasi produk subsidi. Sekitar 90 persen konsumsi berasal dari Pertalite dan Solar subsidi, sementara BBM non-subsidi hanya menyumbang sekitar 10 persen dari total konsumsi.

Jika kebijakan pembatasan operasional truk diberlakukan saat arus mudik, konsumsi Solar diperkirakan turun sekitar 5 hingga 6 persen, terutama pada sektor distribusi logistik dan industri.

Untuk memastikan pasokan tetap lancar di tengah lonjakan kebutuhan, Pertamina menyiapkan mobil tangki standby di sejumlah titik strategis. Armada ini difungsikan sebagai suplai cepat apabila terjadi kekosongan stok di SPBU akibat lonjakan konsumsi maupun kemacetan lalu lintas.

“Kami menyiapkan mobil tangki standby di titik-titik tertentu untuk memperpendek jarak dan waktu suplai. Jika ada SPBU kehabisan BBM, mobil tangki langsung meluncur dan setelah itu digantikan armada lain. Sistem ini membuat distribusi tetap lancar,” jelasnya.

Distribusi BBM selama periode Lebaran juga mendapat pengawalan aparat kepolisian, termasuk koordinasi dengan Kepolisian Daerah Jawa Tengah untuk pengamanan jalur rawan kepadatan.

“Kami sudah bekerja sama dengan Polda untuk pengawalan distribusi. Biasanya pengaturan lalu lintas H- dan H+ Lebaran akan diumumkan resmi oleh kepolisian dan dinas perhubungan,” tambahnya.

Selain lalu lintas, faktor cuaca turut menjadi perhatian. Pertamina terus memantau perkembangan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika guna mengantisipasi potensi gangguan suplai akibat hujan lebat maupun banjir.

Terkait harga, Taufiq menegaskan tidak ada kenaikan signifikan menjelang Lebaran. Harga Pertalite tetap di kisaran Rp10.000 per liter, sementara Solar subsidi berada di kisaran Rp6.500 per liter.

Dengan strategi berlapis tersebut, Pertamina memastikan kebutuhan energi masyarakat selama Ramadan hingga puncak arus mudik dan balik Lebaran di Muria Raya tetap terpenuhi secara aman dan terkendali. (Joel)