Kudus, lintaskudus.com – Seorang anak pulang sekolah dengan sepatu yang mulai usang. Seorang pedagang menata dagangannya sebelum matahari terbit. Sekelompok remaja berkumpul di sudut kampung, membicarakan mimpi yang mungkin terdengar terlalu besar bagi sebagian orang.
Tidak ada yang spektakuler dari pemandangan itu. Tidak ada ledakan, tidak ada kejar-kejaran, tidak ada drama yang memancing sorotan.
Namun justru di sanalah kehidupan berlangsung.
Banyak cerita hadir setiap hari di sekitar masyarakat. Dekat, nyata, dan akrab. Sayangnya, sebagian besar berlalu begitu saja tanpa pernah menjadi perhatian. Padahal, di balik peristiwa-peristiwa sederhana itu tersimpan emosi, harapan, kegelisahan, dan nilai kemanusiaan yang kuat.
Semangat itulah yang diangkat Festival Film Anak Bangsa (FFAB) 2026 melalui tema “Scene The Unseen”.
Bagi penyelenggara, tema tersebut bukan sekadar slogan festival. Ia merupakan ajakan untuk melihat kembali hal-hal yang selama ini luput dari pandangan. Untuk menemukan cerita di tempat-tempat yang sering dianggap biasa.
Tahun ini, ajakan itu rupanya mendapat sambutan luas.
Sebanyak 92 film dari berbagai daerah di Indonesia masuk dalam proses seleksi FFAB 2026. Dari puluhan karya tersebut, hanya 30 film yang berhasil lolos kurasi dan berhak menjadi bagian dari rangkaian festival.
Tiga puluh film itu datang membawa beragam cerita. Ada yang berbicara tentang keluarga, persahabatan, komunitas, pekerjaan, keresahan hidup, hingga mimpi-mimpi sederhana yang tumbuh di tengah keterbatasan.
Cerita-cerita yang mungkin tidak sedang menjadi perbincangan nasional. Namun justru karena kedekatannya dengan kehidupan sehari-hari, kisah-kisah itu terasa begitu manusiawi.
Perwakilan panitia FFAB 2026, Elang Ade Iswara, menyebut tema “Scene The Unseen” lahir dari keinginan untuk menghadirkan ruang bagi cerita-cerita yang sering tidak terdengar atau tidak terdokumentasikan.
Di tengah derasnya arus informasi dan hiburan, banyak pengalaman manusia yang berjalan diam-diam tanpa pernah mendapat sorotan. Padahal, pengalaman itulah yang sering kali paling mudah menghubungkan satu orang dengan orang lainnya.
Karena itu, FFAB tidak hanya berbicara soal film sebagai karya seni. Festival ini juga berbicara tentang bagaimana sinema bisa menjadi jendela untuk memahami kehidupan dari sudut yang berbeda.
Menariknya, perjalanan FFAB 2026 tidak dimulai di ruang pemutaran film atau malam penganugerahan.
Sebelum festival berlangsung, panitia telah lebih dulu mendatangi masyarakat melalui program diskusi dan pemutaran film di enam titik yang tersebar di Kudus, Jepara, dan Pati.
Di tempat-tempat itu, film hadir bukan sebagai tontonan eksklusif, melainkan sebagai ruang perjumpaan. Orang-orang datang, duduk bersama, menonton, berdiskusi, lalu berbagi pandangan tentang cerita yang mereka saksikan.
Barangkali inilah makna paling dekat dari tema “Scene The Unseen” itu sendiri. Tidak hanya menghadirkan cerita yang selama ini tersembunyi, tetapi juga mendekatkan cerita tersebut kepada masyarakat yang menjadi bagian darinya.
Perwakilan GsT, Asa Jatmiko, melihat festival sebagai ruang penting bagi generasi muda untuk tumbuh.
“Kehadiran GsT dalam festival ini menjadi bentuk dukungan terhadap pengembangan ruang-ruang kreatif yang memungkinkan anak muda bertemu, belajar, berdiskusi, dan berkarya melalui medium film,” ujarnya.
Sementara itu, di meja para juri, pencarian tidak berhenti pada kualitas gambar atau kecanggihan teknik produksi.
Perwakilan dewan juri, Cornel Innos, menjelaskan bahwa proses kurasi juga mempertimbangkan kekuatan gagasan, cara bertutur, relevansi tema, dan kemampuan sebuah film menghadirkan perspektif yang jujur.
Karena pada akhirnya, sebuah film yang baik bukan hanya soal apa yang ditampilkan di layar, tetapi juga tentang apa yang mampu ditinggalkan dalam benak penontonnya.
FFAB 2026 sendiri menghadirkan jajaran juri yang berasal dari kalangan profesional perfilman nasional, yakni aktris Faradina Mufti, sutradara Wahyu Agung Prasetyo, dan Cornel Innos.
Sementara sebagai bentuk apresiasi terhadap para sineas muda, seluruh film yang lolos kurasi akan ditayangkan secara gratis melalui platform Sinea.id. Dengan begitu, masyarakat dari berbagai daerah dapat ikut menikmati karya-karya yang lahir dari beragam sudut Indonesia.
Di tengah dunia yang semakin ramai oleh cerita-cerita besar, FFAB 2026 memilih berjalan ke arah sebaliknya.
Festival ini justru mengajak orang menoleh pada hal-hal kecil yang selama ini terlewat. Pada percakapan sederhana, kegelisahan yang dipendam, mimpi yang tumbuh diam-diam, dan kehidupan sehari-hari yang sering dianggap biasa.
Sebab terkadang, cerita yang paling layak didengar bukanlah yang paling keras suaranya.
Melainkan yang selama ini nyaris tak terdengar. (Joel)



