Perubahan Iklim dan Kaum Muda di Kawasan Pegunungan Muria

Kemerosotan lingkungan hidup di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia, berada pada situasi yang berbahaya. Seandainya Indonesia tidak sanggup menginvestasikan sumber-sumber daya secukupnya, menjaga ekosistem hutan, dan memperbaiki efisiensi energi, maka sistem kehidupan masyarakat yang tinggal di Indonesia akan mengalami kerusakan lingkungan dan sulit untuk dapat diperbaiki lagi. Menyusutnya sumber daya alam, termasuk penggundulan hutan, kemudian munculnya tempat pembuangan sampah yang meluas, penipisan lapisan ozon, dan efek rumah kaca menjadi tantangan bagi kehidupan manusia. Karena lingkungan adalah milik bersama bagi setiap orang, penggunaan sumber daya alam oleh satu orang akan memengaruhi orang lain. Beberapa survei menunjukkan bahwa sikap manusia yang kurang peduli terhadap lingkungan semakin umum dilakukan (Widjanarko, 2019).


Pemanasan global (global warming) dan perubahan iklim yang terjadi tidak hanya telah dialami suatu negara saja melainkan secara global termasuk Indonesia. Indonesia termasuk negara besar yang mempunyai banyak pulau dan lautan. Luasnya lautan yang berada di wilayah Indonesia dapat memberikan efek terhadap global warming dan perubahan iklim. Indonesia juga sudah mengalami perubahan yang terbilang cukup pesat. Perubahan tersebut terjadi karena gaya hidup dan kebutuhan manusia yang serba instan dan masifnya menggunakan teknologi. Gaya hidup dan aktivitas merusak lingkungan yang dilakukan manusia dapat mengakibatkan peningkatan suhu. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) mengatakan dalam waktu 15 tahun yaitu pada tahun 1990-2005 sudah terjadi peningkatan suhu global di bumi sekitar antara 0,15℃-0,3℃ (Mulyani, 2021).


Di Indonesia isu perubahan iklim masih asing di kalangan anak muda. Asing di sini bukan berarti tidak ada sama sekali inisiatif anak muda untuk fokus pada isu perubahan iklim, tapi sejauh ini masih sedikit gerakan sosial yang signifikan yang mendorong anak muda tergerak untuk melakukan perubahan yang konsisten. Sejauh ini gerakan terkait iklim kerap kali seremonial dan insidental, misalnya saat hari lingkungan hidup atau ketika ada perayaan earth hour. Setelah itu nyaris sunyi dan tak ada lagi (Thalani, 2021).


Tulisan ini merupakan bentuk kepedulian penelit pada generasi muda yang tinggal di sekitar peneliti bertempat tinggal yaitu di Kawasan Pegunungan Muria, meliputi Kabupaten Kudus, Kabupaten Pati dan Kabupaten Jepara. Secara administratif Pegunungan Muria berada di ke tiga wilayah kabupaten tersebut.


Populasi dalam penelitian ini adalah kaum muda atau remaja yang bertempat tinggal di Pegunungan Muria yaitu di Kabupaten Kudus, Pati dan Jepara. Teknik pengumpulan data penelitian menggunakan angket. Pada angket terdapat satu variabel dependen (Pro-Environmental Behavior) dan enam variabel independen (climate change awareness, climate concern, environmental value, nature relatedness, climate change experience, information exposure) dalam penelitian ini.
Indikator yang digunakan untuk mengukur variabel tersebut diadaptasi dari beberapa penelitian sebelumnya. Variable Pro-Environmental Behavior diukur dengan menggunakan 14 indikator, yang diambil dari Situmorang, Hussain, dan Chang (2021), Withmarsh et al (2022) dan Simon, Pakingan, dan Aruta (2022). Variabel Situmorang, Hussain, dan Chang (2021) climate change awareness diukur menggunakan 10 indikator, diadaptasi dari Jürkenbeck, Spiller, Schulze (2021) dan Situmorang, Hussain, dan Chang (2021).


Empat indikator diadaptasi dari penelitian Withmarsh, et al untuk mengukur variabel climate concern. Pengukuran variabel environmental value dilakukan melalui lima belas indikator yang diadaptasi dari Dunlap et al (2000). Empat indikator digunakan untuk mengukur climate change experience yang diambil dari penelitian sebelumnya yaitu Simon, Pakingan, dan Aruta (2021), Yatirajula, Prashad, Daniel, Maulik (2023), dan Apaolaza et al (2022). Variabel nature relatedness dan information exposure masing-masing diukur menggunakan enam dan tujuh indikator yang diadaptasi dari penelitian Wimarsh et al (2022).


Selain indikator-indikator tersebut, peneliti juga merumuskan beberapa pertanyaan tambahan untuk menambah dan memperdalam informasi mengenai perubahan iklim. Pertanyaan tersebut terkait dengan beberapa hal diantaranya: intensitas perubahan iklim yang dialami, fenomena yang terkait dengan perubahan iklim, dampak utama perubahan iklim yang dirasakan, penghambat komunikasi perubahan iklim, dan partisipasi anak muda terkait perubahan iklim.


Sampel dalam penelitian ini adalah kaum muda atau remaja usia 15-21 tahun yang memiliki ciri-ciri (1) lahir dan tinggal di kota Kudus atau Pati dan Jepara (2) merasakan dampak perubahan iklim (3) berstatus pelajar atau mahasiswa atau wiraswasta. Pemilihan responden berdasarkan teknik purposive sampling yaitu teknik nonrandom sampling yang ditentukan berdasarkan pada ciri tertentu yang dianggap mempunyai hubungan erat dengan ciri populasi.


Angket dibagikan secara online menggunakan google form. Data kuantitatif dari angket google form dilihat statistik deskriptifnya, dengan mencermati nilai persentase jawaban yang dipilih oleh para responden terkait pertanyaan dalam angket. Data disajikan berdasarkan lokasi domisili responden untuk dapat diperbandingkan. Nilai statistik desktiptif yang dilihat utamanya adalah nilai modus (jawaban yang paling banyak dipilih oleh responden). Nilai modus tersebut akan diketahui bagaimana pendapat sebagian besar responden terhadap hal-hal yang ditanyakan dalam angket berupa pengetahuan, dampak dan strategi kaum muda atau remaja dalam menghadapi perubahan iklim.


Dalam proses penyebaran kuesioner, didapatkan data sebanyak 408 responden. Namun, hanya data dari 308 responden yang digunakan dalam analisis penelitian. Data dari responden lainnya tidak dipakai karena tidak memenuhi persyaratan dari segi domisili dan umur, maupun karena tidak diisi dengan baik.


Hasil jawaban responden dapat dilihat dari gambar 4.1 sampai dengan 4.6. Gambar 4.1 menunjukkan jawaban responden ketika ditanya terkait kapan dampak perubahan iklim mulai terlihat. Sekitar 65% responden menjawab bahwa dampak perubahan iklim sudah terjadi. Terdapat sekitar 16% persen yang memberikan jawaban bahwa mereka tidak tahu. Sekitar 13% responden lain menyatakan bahwa dampak perubahan iklim akan mulai terlihat dalam 50 tahun kedepan, kurang dari 4% responden menyatakan dampaknya akan terlihat setelah 50 tahun lagi. Hanya sebagian kecil responden (kurang dari 2%) yang menyatakan bahwa perubahan iklim tidak akan terjadi.

Gambar 4.1 Dampak perubahan iklim mulai terlihat

Gambar 4.2 menunjukkan bahwa seluruh responden pernah mengalami dampak langsung dari perubahan iklim berupa suhu udara yang sangat panas. Sebagian besar anak muda (96,12%) juga pernah merasakan curah hujan yang sangat tinggi disertai angin kencang (badai). Sementara itu, lebih dari tiga perempat (79,29%) anak muda juga pernah mengalami bencana kekeringan. Lebih dari separuh (54.05%) pernah mengalami banjir di sekitar lokasi tempat tinggal mereka. Bahkan, sepertiga di antara mereka (33,33%) merasakan juga naiknya permukaan air laut.

Gambar 4.2: Dampak dari perubahan iklim yang pernah dirasakan anak muda

Penelitian ini juga meminta kepada responden untuk mengidentifikasi lima peristiwa terkait dengan perubahan iklim yang paling sering dirasakan. Berdasarkan gambar 4.3, terlihat bahwa lima peristiwa tersebut adalah perubahan suhu yang sangat ekstrim (kadang panas, kemudian berubah menjadi sangat dingin) (dipilih oleh 85,44% responden), kekeringan (70,87% responden), banjir (65,37% responden), badai yang semakin intens (64,08%), serta munculnya berbagai penyakit (62,14%).

Gambar 4.3 Dampak utama dari perubahan iklim yang paling sering dirasakan

Responden selanjutnya diminta untuk memilih tiga faktor yang dinilai paling menghambat upaya penanggulangan perubahan iklim. Hasil tanggapan responden ditunjukkan pada Gambar 4.4. Faktor yang dianggap paling menghambat upaya mitigasi perubahan iklim adalah kurangnya dukungan dari pemerintah. Faktor ini dipilih oleh 281 dari 309 responden atau sekitar 90.9%. Hal ini berarti hampir semua responden merasa bahwa peran pemerintah dalam usaha untuk mengurangi dampak perubahan iklim dirasa masih kurang. Hal ini terlihat dari peraturan pemerintah terkait perlindungan lingkungan yang masih terbatas dan lemah. Lebih jauh lagi, pemerintah dirasa masih terbatas perannya dalam memfasilitasi sistem pengelolaan sampah yang baik. Faktor kedua yang dipilih sebagai penghambat oleh hampir 70% dari responden adalah responden merasa tidak yakin bahwa usaha dari individu bisa membantu memperbaiki iklim. Faktor ketiga adalah kurangnya informasi yang tersedia penanggulangan perubahan iklim.

Gambar 4.4 Faktor yang menghambat penanggulangan perubahan iklim

Ketika responden ditanya terkait keinginan mereka untuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan lingkungan sebagai bentuk mitigasi perubahan iklim, hampir 79% dari responden menyatakan bahwa mereka tertarik untuk berpartisipasi. Respon ini dapat dilihat pada gambar 4.5. Dari 79% responden yang merasa tertarik dengan kegiatan lingkungan, kemudian ditanya lebih lanjut terkait kegiatan apa yang mereka ingin ikuti. Hasilnya dapat dilihat pada gambar 4.6.

Kegiatan utama yang diikuti oleh kalangan anak muda dalam rangka mengurangi dampak perubahan iklim adalah kegiatan penghijauan. Kegiatan ini dipilih sekitar 60% dari responden yang tertarik untuk ikut kegiatan perubahan iklim. Anak muda juga tertarik untuk bergabung dalam organisasi / komunitas lingkungan / ikut aksi lingkungan (50%), melakukan aksi bersih sampah di sungai / laut / tempat umum (47,54%), melakukan daur ulang sampah (41,80%). Kegiatan lain dipilih oleh kurang dari 40% responden, misalnya saja workshop lingkungan (39.75%), mengompos sampah makanan/sampah basah (33,20%), menggunakan alat transportasi umum (29,10%), penelitian terkait lingkungan (24,18).

Gambar 4.6 Kegiatan mitigasi iklim yang ingin diikuti kaum muda

Berdasarkan hasil analisis regresi terlihat bahwa masing-masing dari variabel climate change experience, nature relatedness, dan information exposure memiliki hubungan yang positif dan signifikan dengan pro-environmental behavior. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa semakin sering anak muda yang merasakan dampak dari perubahan iklim, maka mereka akan semakin menerapkan pro-environmental behavior. Anak muda yang memiliki kedekatan dengan alam (nature relatedness) yang semakin tinggi, akan semakin sering menerapkan pro-environmental behavior. Selain itu, pro-environmental behavior juga akan semakin sering untuk dilakukan oleh anak muda yang memiliki lebih banyak informasi terkait dengan pro-environmental behavior.
Di antara ketiga variabel independen yang memiliki hubungan positif signifikan dengan pro-environmental behavior, variabel information exposure memiliki nilai koefisien yang paling tinggi. Dengan demikian, agar lebih banyak anak muda yang terlibat dalam pro-environmental behavior, perlu adanya usaha untuk meningkatkan climate change experience, nature relatedness, dan yang paling utamanya adalah information exposure.


Hasil penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa sebagian besar anak muda setuju bahwa dampak perubahan iklim sudah terjadi. Selain itu, berbagai dampak perubahan iklim seperti suhu udara yang panas, badai, dan kekeringan sudah dialami oleh mereka. Hal itu menunjukkan bahwa anak muda, tidak terlepas dari bahaya perubahan iklim. Jika masa muda mereka sudah mengalami beberapa peristiwa yang diakibatkan perubahan iklim, maka tidak menutup kemungkinan tanpa adanya mitigasi yang baik ke depannya mereka bisa merasakan dampak perubahan iklim secara lebih sering atau bahkan lebih parah.


Dari segi penanggulangan, banyak kaum muda yang memiliki keinginan untuk berpartisipasi dalam kegiatan penanggulangan perubahan iklim. Mereka sangat tertarik dengan kegiatan seperti penghijauan, bergabung dalam organisasi lingkungan, aksi bersih sampah, dan melakukan daur ulang sampah. Namun demikian, kaum muda merasa bahwa dukungan dari pemerintah terhadap berbagai upaya penanggulangan perubahan iklim masih sangat terbatas. Selain itu, upaya pribadi dan peran media juga dirasa tidak cukup berpengaruh dalam mengurangi permasalahan iklim.


Dari hal ketiga utama yang menghambat penanggulangan perubahan iklim, dapat disimpulkan bahwa anak muda membutuhkan keyakinan bahwa usaha individu bisa berpengaruh untuk mengurangi dampak dari perubahan iklim. Agar hal tersebut bisa terjadi, peran dari pemerintah untuk mengkoordinir usaha dan berbagai program lingkungan untuk mitigasi iklim sangatlah dibutuhkan. Hal ini dibutuhkan agar yang bergerak bukan hanya satu atau dua individu, tetapi seluruh individu semoga dampaknya akan lebih mudah untuk dirasakan. Kemudian peran media juga dibutuhkan mengkomunikasikan program-program tersebut sehingga lebih banyak orang yang teredukasi dan tergerak untuk berpartisipasi.


Hal ini sejalan dengan pendapat Priadi, Fatria, Nadiroh, Sarkawi, & Oktaviani (2018) yang mengatakan kaum muda, yang dikenal sebagai generasi milenial sudah sepantasnya berperan aktif dan peka dalam upaya perlindungan dan pelestarian lingkungan hidup. Disamping itu, perwujudan ini dapat dikategorikan sebagai bagian dari pembelajaran dengan langsung mengimplementasikan peraturan pemerintah demi menciptakan warga negara yang mentaati peraturan dengan benar serta akan menimbulkan generasi muda yang mendapatkan impact yang baik kedepannya.

Peneliti:
Mochamad Widjanarko
Doktor Psikologi Lingkungan
Staf Pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Muria Kudus
m.widjanarko@umk.ac.id

dan Etni Marliana, Peneliti di MRC (Muria Research Center) Indonesia

Exit mobile version