LintasKudus, KUDUS – Sastrawan sekaligus novelis kenamaan, Ustadz Dr. phil. Habiburrahman El Shirazy, Lc., M.A. atau yang akrab disapa Kang Abik, mengajak para orang tua membiasakan anak gemar membaca buku sebagai upaya memperkuat kemampuan literasi untuk mendukung masa depan mereka.
Menurut Kang Abik, kemampuan membaca, menulis, dan berpikir menjadi modal penting bagi anak dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan sekaligus menentukan kualitas generasi pada masa mendatang.
Hal tersebut disampaikan Kang Abik saat menjadi pembicara dalam kegiatan parenting bertajuk “Menyemai Cinta dan Harmoni untuk Buah Hati” yang diselenggarakan Yayasan Sosial Pendidikan (YSP) Al-Fath Kabupaten Kudus di Aula DPRD Kabupaten Kudus, Sabtu (5/9/2026).
Kegiatan tersebut diikuti jajaran pengurus YSP Al-Fath Kudus, Kepala Sekolah Islam Terpadu mulai dari TPA IT Umar Bin Khathab, KBIT Umar Bin Khathab, TKIT Umar Bin Khathab hingga SDIT Umar Bin Khathab, serta para wali murid. Kegiatan dimoderatori Ketua IGTKI Kabupaten Kudus Arie Widiana Ristiani, S.Pd.AUD.
Kang Abik yang dikenal melalui sejumlah novel bestseller seperti “Ayat-Ayat Cinta”, “Ketika Cinta Bertasbih”, “Bumi Cinta”, dan “Merindu Baginda Nabi” tersebut mengatakan, penguatan literasi perlu menjadi perhatian orang tua sejak anak masih usia dini.
Ia menyebut, pentingnya literasi bahkan telah ditegaskan sejak wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW melalui perintah membaca atau “Iqra”.
“Literasi paling dasar di Islam adalah iqra. Ketahuilah, untuk mendapatkan ilmu, bertauhid pun memerlukan ilmu,” katanya.
Menurut dia, tradisi membaca dan menulis memiliki sejarah panjang dalam peradaban Islam. Pada masa Nabi Muhammad SAW, terdapat para sekretaris yang membantu mencatat berbagai hal. Tradisi tersebut kemudian berkembang menjadi gerakan keilmuan yang mendorong umat Islam melakukan perjalanan untuk mencari ilmu.
Kang Abik menegaskan, keberhasilan literasi tidak berhenti pada kemampuan membaca dan menulis, tetapi harus berlanjut pada kemampuan berpikir.
“Anak-anak kita harus ditanamkan tiga hal ini, yaitu membaca, menulis, dan berpikir,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan orang tua agar tidak menjadikan media sosial sebagai satu-satunya sumber informasi bagi anak. Menurutnya, media sosial memiliki keterbatasan untuk memberikan pembelajaran secara mendalam.
Karena itu, orang tua dan guru perlu membiasakan anak melakukan penelusuran informasi dan mengecek kembali referensi yang digunakan.
“Kadang-kadang algoritma tidak tuntas informasinya. Guru dan orang tua tidak boleh berhenti, tetapi harus melakukan kroscek informasi. Ketelusuran referensi autentiknya perlu diperhatikan,” katanya.
Ia meminta orang tua lebih sabar dalam menelusuri sumber informasi, termasuk tidak hanya membaca judul, tetapi memahami keseluruhan isi serta memastikan referensi yang digunakan dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam membangun budaya membaca pada anak, menurut Kang Abik, orang tua harus hadir secara langsung dan membersamai anak. Orang tua dapat mengenalkan buku sejak usia dini dengan cara yang menyenangkan.
Salah satunya dengan mengajak anak mengunjungi toko buku atau perpustakaan. Ketika membacakan cerita, orang tua juga dapat membawakan karakter tokoh dengan ekspresi dan suara yang berbeda agar anak lebih tertarik.
“Harus membersamai anak kita,” tegasnya.
Kang Abik menilai negara-negara maju memberikan perhatian besar terhadap budaya membaca dan keberadaan perpustakaan. Bahkan, perpustakaan di sejumlah negara tersedia hingga tingkat wilayah dan dirancang menarik bagi anak-anak.
Ia menilai budaya literasi memiliki kaitan erat dengan kemajuan suatu bangsa karena penguasaan pengetahuan akan menentukan kemampuan masyarakat dalam menghadapi persaingan peradaban.
“Kalau kontestasi peradaban, kita jauh, mereka di laboratorium. Duluan baca akan duluan menemukan,” ujarnya.
Selain literasi, Kang Abik mengingatkan orang tua agar memperhatikan tumbuh kembang anak secara menyeluruh. Menurutnya, manusia tidak hanya memiliki kebutuhan jasmani, tetapi juga akal dan ruhiyah yang harus mendapatkan perhatian secara seimbang.
Ia mencontohkan ketika anak menangis meminta makan, orang tua dengan mudah memahami bahwa kebutuhan jasmaninya harus dipenuhi. Namun, kebutuhan akal dan ruhiyah juga tidak boleh diabaikan.
“Anak kita manusia yang terdiri dari jasmani dan akal. Perhatian kepada anak kita sering fokusnya di sisi jasmani karena yang paling valid itu yang paling tampak. Padahal yang diperlukan anak kita bukan hanya jasmani,” ujarnya.
Menurut Kang Abik, keseimbangan antara jasmani, akal, dan ruhiyah diperlukan agar anak dapat berkembang secara optimal dan meraih kesuksesan.
Ia kemudian mengibaratkan kehidupan seperti sebuah pertandingan. Untuk memenangkan pertandingan, seseorang harus memahami aturan permainan. Demikian pula dalam kehidupan, manusia harus memahami aturan yang telah ditetapkan Allah SWT.
Ia menjelaskan terdapat hukum syariat yang menjadi pedoman kehidupan manusia menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Selain itu, terdapat hukum alam yang berlaku bagi siapa pun tanpa membeda-bedakan.
“Hukum alam tidak berpihak kepada siapapun. Yang menang adalah yang menguasai kunci permainan,” jelasnya.
Di tengah perkembangan teknologi dan algoritma media sosial, orang tua, kata dia, dituntut semakin aktif mendampingi anak. Teknologi dapat menjadi rahmat sekaligus musibah apabila tidak digunakan secara bijak.
Kang Abik juga menyinggung pentingnya kesesuaian antara dunia pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja. Menurutnya, salah satu tantangan negara berkembang adalah sistem pendidikan yang belum sepenuhnya terintegrasi dengan kebutuhan industri dan perkembangan zaman.
Ia mencontohkan Jerman dan Jepang yang memiliki keterkaitan lebih erat antara pendidikan, penelitian, dan dunia industri. Bahkan, potensi anak mulai diperhatikan sejak usia dini.
Karena itu, ia meminta orang tua mengenali potensi masing-masing anak dan tidak memaksakan satu ukuran keberhasilan kepada semua anak.
Kang Abik juga mengajak para orang tua memadukan ikhtiar melalui pendidikan dan ilmu pengetahuan dengan tawakal kepada Allah SWT.
Menurutnya, orang tua tidak cukup hanya memenuhi kebutuhan jasmani dan pendidikan anak, tetapi juga perlu memperkuat pendidikan ruhiyah dan doa.
“Selain ikhtiar dengan ilmu, juga ikhtiar kepada Allah,” pungkasnya.












